Apakah HIV Bisa Sembuh? Kenali Gejala dan Cara Pengobatannya!
Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus ini menyebabkan daya tahan tubuh menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Jika virus ini tidak diobati, maka HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Pada saat terkena AIDS, tubuh pasien tidak dapat lagi melawan infeksi yang menyerang.
HIV dapat masuk ke dalam tubuh melalui cairan kelamin dan darah. Penyebab HIV semakin cepat menyebar antara lain karena sering berganti pasangan, menggunakan jarum suntik secara bersamaan, atau penularan HIV dari ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS kepada janin.
Hingga saat ini, belum terdapat obat yang efektif untuk pengobatan AIDS, sehingga pasien akan mengidap HIV seumur hidup. Meskipun begitu, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan HIV. Apabila mendapatkan pengobatan yang tepat, pasien HIV dapat berumur panjang dan hidup dengan sehat.
Gejala HIV yang Perlu Diwaspadai
Satu-satunya cara memastikan seseorang terinveksi HIV adalah dengan melakukan tes laboratorium. Bisa dengan tes serologi atau tes virologis. Tes serologi terdiri dari rapid test dan tes enzyme immunoassay (EIA). Sedangkan tes virologis terdiri dari tes HIV DNA kualitatif (EID) pada bayi dibawah 18 bulan atau tes HIV RNA kuantitatif.
Meski harus dipastikan dengan tes, setidaknya terdapat beberapa gejala HIV yang perlu diwaspadai sesuai dengan tingkat keparahannya.
Stadium 1
Pada stadium 1, gejala HIV masih belum begitu terasa. Namun dapat terjadi pembengkakan kelenjar getah bening pada ketiak, leher, atau liptan paha. Meski belum terasa, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat menularkan HIV kepada orang lain.
Stadium 2
Pada stadium 2, daya tahan tubuh ODHA mengalami penurunan sehingga menimbulkan beberapa gejala seperti penurunan berat badan hingga kurang dari 10 persen, infeksi saluran pernafasan, infeksi jamur pada kuku dan jari, timbul bintil kulit berisi air (herpes zoster), merasakan gatal pada kulit, kulit menjadi bersisik dan berwarna kemerahan, dan sering mengalami radang mulut dan sariawan di ujung bibir.
Stadium 3
Pada stadium 3, biasanya akan muncul gejala infeksi primer seperti diare kronis, penurunan berat badan drastis, sering demam, infeksi jamur di mulut, terkena tuberkulosis paru, mengalami radang mulut, radang gusi, serta infeksi gusi, hingga penurunan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Pada saat inilah biasanya ODHA didiagnosis terinveksi HIV/AIDS.
Stadium 4
Pada stadium 4 atau stadium akhir AIDS, terjadi pembengkakan kelenjar limfa pada seluruh tubuh pasien. Selain itu, pasien dapat mengalami pneumonia, turunnya berat badan hingga lebih dari 10 persen, infeksi bakteri berat, radang otak, infeksi sendi dan tulangm infeksi herpes simplex kronis, tuberkulosis kelenjar, infeksi jamur di kerongkongan, kanker sarcoma kaposi, abses di otak, hingga penurunan kesadaran.
Cara Mengobati Penyakit HIV
Meskipun belum dapat disembuhkan seratus persen, pasien HIV/AIDS bisa menjalani pengobatan berupa terapi ARV (Anti-retroviral). Terapi ini diketahui dapat membantu mencegah virus HIV menggandakan diri serta bisa memproduksi lebih banyak sel CD4 yang bertugas melawan infeksi.
Terapi ARV merupakan cara menyembuhkan HIV dengan mengkonsumsi obat-obatan yang direkomendasikan untuk pasien HIV/AIDS setiap hari dan seumur hidup.
Tujuan terapi ini adalah untuk mengurangi viral load pengidap menuju pada tingkat yang tidak terdeteksi. Saat seorang pasien HIV dapat mempertahankan viral load tidak terdeteksi, maka ia dapat mengurangi risiko penularan HIV ke pasangan melalui hubungan seks.
Meskipun sudah berhasil mempertahankan viral load tidak terdeteksi, terapi ARV harus tetap dilakukan agar menjaga sistem kekebalan tubuh, mengurangi risiko infeksi, mengurangi kemungkinan berkembangnya HIV yang resisten terhadap obat, serta mengurangi kemungkinan penularan HIV kepada orang lain.
Biasanya obat-obatan ARV terdiri dari tiga atau lebih obat dari beberapa kelas yang berbeda. Misalnya dua obat kelas satu dan satu obat kelas dua. Hal ini ditujukan untuk memperhitungkan resistensi obat individu, menghindari terbentuknya jenis HIV baru yang resisten terhadap obat, serta untuk memaksimalkan penekanan virus dari dalam.
Tips Saat Menjalani Terapi ARV
Cara mengobati HIV dengan terapi ARV memerlukan konsistensi yang kuat. Karena obat ini harus diminum setiap hari seumur hidu. Oleh karena itu, beberapa tips agar terapi ARV berhasil menurunkan jumlah HIV dalam tubuh diantaranya:
1. Minum obat ARV secepat mungkin setelah terinfeksi virus HIV
2. Minum obat sesuai resep dokter
3. Jangan sekali-kali melewatkan minum obat
4. Tetap menjalani terapi ARV meskipun sudah memiliki viral load yang tidak terdeteksi
5. Konsultasikan kepada dokter mengenai risiko, efek samping, kendala, atau masalah kesehatan mental yang mengganggu saat menjalani terapi ARV
6. Melakukan konsultasi secara rutin dengan dokter untuk memantau kondisi kesehatan
7. Segera beritahu dokter jika terdapat masalah saat menjalani terapi ARV
Pencegahan HIV
Penularan HIV dari pengidap kepada orang lain dapat dicegah dengan cara sebagai berikut:
1. Tidak bergonta-ganti pasangan seks
2. Menghindari penggunaan jarum suntik secara besamaan
3. Melakukan edukasi HIV kepada orang lain, mulai dari penyebab HIV, gejala HIV, cara penularan HIV, cara mengobati HIV, dan cara mencegah HIV. Dengan begitu, masyarakat akan lebih sadar dan dapat mencegah penularan HIV.